Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Thursday, February 20, 2014

Food Blogger

Di lingkungan kota kuliner ini, ada 2 food blogger ato food critic yg dominan; sebutlah si K dan si M (bila anda pecinta makanan dan anda orang medan, you know who they are .hehe). Si K, semua makanan liputannya selalu disebut enak, semua resto dan tpt mkn, apapun jenis mknannya, pasti disebut enak, ho ciak. Lain dengan si M yang lbh pedes kritikannya kadang-kadang. Rasa ayamnya hambar lah.. Ikannya keasinan lah.. Pelayanannya jelek lah.. Dan sebagainya. Saya pribadi lebih mengikuti reviewnya si M, menurutku, reviewnya lebih jujur gitu, walaupun kadang terasa sangat pedes dan ga enak di telinga. Bagaimanapun.. Saya sebagai si awam, saya jadi lebih ngerti mana yang mana; yang enak yang seperti apa, yang ga enak tu seperti apa. Kalo semua makanan disebut enak, jadi bingung kan milihnya?

Hari ini, sebagai seorang Kristen, tentu saja saya juga berharap dapet guidance dalam pertumbuhan rohani saya. Saya belajar dan mengasah diri supaya lebih peka dalam mengerti Sang kebenaran, supaya lebih ngerti membedakan yang benar dan yang salah (discernment). Tetapi pada kenyataannya, saat saya mengerti yang mana yg salah dan mana yang benar dan saya mengutarakannya, kenapa saya justru seperti sedang menjelek-jelekkan orang lain?
Kenapa jadinya orang lebih suka si K yang cuma ngomong segala yang baik dan enak? Apakah kritik yg diberikan si M itu menjelekkan? Bukankah kritik yg diberikan si M seharusnya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi resto unruk berbenah diri?

Lalu kenapa kita, orang kristen lebih suka mendengar apa yg enak2 saja yang positif saja dan bukan apa yang benar (walaupun pedes)?

Sunday, May 5, 2013

Life of Pi



Life of Pi adalah sebuah film yang mempunyai cara bercerita yang sangat unik. Film ini dimulai dengan percakapan seorang penulis dengan Pi dalam pencariannya akan Tuhan. Jelas sekali kita bisa melihat sosok penulis dalam karakter Pi. Papa Pi adalah seorang yang bijaksana sekali. Kita bisa belajar banyak hikmatnya dalam pengajarannya kepada anak-anaknya; salah satu yang  berkesan adalah percakapannya dengan Pi di meja makan, seringkali kita seperti Pi, melihat semua agama baik, menyembah semua tuhan yang kita kenal: Syiwa, Yesus, Buddha, Allah. Pi berpikir semua agama baik, masing-masing memiliki ‘plus-minus’ masing-masing. Jadi, kenapa tidak semuanya disembah aja? No harm toh? Papa Pi menjawab dengan bijaksana sekali, dengan hikmat yang... kupikir berasal dari Yang diatas saja: “ Orang yang beriman kepada banyak allah, jangan berpikir kalau dia adalah orang yang sangat rohani dan beriman. Karena sebenarnya dia tidak beriman kepada siapa-siapa.” Sebuah jawaban yang mengejutkan sekali! Dalam dan BENAR! Truly True.

Saya tidak akan banyak menulis mengenai petualangan Pi dan usahanya bertahan hidup di tengah lautan bersama seekor harimau (bernama Richard Parker), saya akan lompat langsung ke akhir ceritanya, disaat Pi bercerita hal yang sebenarnya kepada dua orang penulis laporan. Yaitu kejadian yang sebenarnya tetapi sukar dipercaya, mereka lebih senang Pi bercerita tentang sesuatu yang kedengarannya lebih masuk di akal daripada hal yang sebenarnya, yaitu bahwa Pi bertahan hidup, bersama dan karena seekor harimau. Di dalam segala kesukarannya untuk bertahan hidup, harimau itu menjadi pisau yang terus mengasah Pi untuk senantiasa waspada, memotivasinya untuk terus bertahan. Tanpa harimau itu, Pi mungkin sudah tidak bisa menceritakannya kepada si penulis saat ini.
Nah, yang menarik adalah Pi mengaitkan hal ini dengan Tuhan. Hal ‘ini’ apa?
Yaitu hal “ kita pada dasarnya pun seperti dua orang penulis laporan ini, kita lebih senang mendengarkan apa yang kita pikir masuk di akal kita, kita tidak mau mendengar apa yang benar, tetapi apa yang aku suka.”
Sama halnya dengan, Tuhan adalah kebenaran, tetapi Dia kedengarannya tidak masuk akal, cara Dia bertindak, kejadiannya tidak terlalu masuk akal bagi kita sehingga kita memilih untuk diciptakan satu cerita lain mengenai tuhan yang lain, yang lebih masuk akal kita. Which story do you prefer?